Wednesday, 19 June 2013

Sasando Shop (English Version)

Sasando Shop sale many type of Sasando for gift, collection, and can be used to play for beginner and profesional Sasando Player


We Sale:
Electric Sasando 45 Strings (without stand) IDR 4.250.000,-
Electric Sasando 45 Strings (with stand) IDR 5.000.000,-
Electric Sasando 32 Strings IDR 4.000.000,-
Sasandu (Sasando Gong) IDR 800.000,-  
Sasando 24 Strings (Non Electric) IDR 900.000,- 
Sasando 45 Strings (Non Electric) IDR 2.800.000,-
Sasando for gift & collection IDR 300.000,-
Miniature Sasando (Height 12-15 cm) IDR 50.000,-

Handmade Drawing and used by Profesional Sasando Player
 
Free: Sasando stem and Cabel 3 meter for each order of electric Sasando.

Contact us for Solo or Group Performance in National and International Ceremony.




This Sasando type is called Violin Sasando and used by all profesional player.

We already served buyers from Indonesia and other countries.

Contact:
Nat
Jl. Dodiklat No.6 (Depan Koperasi SPN)
Oebobo - Kupang 85111
Nusa Tenggara Timur - Indonesia
Mobile: 085738012724
Email: nat_arch@hotmail.com


History of Musical Instruments Sasando

Sasando  is a type of stringed musical instrument with a resonator of haik (woven from palm leaves) that are well known among the people of the East Nusa Tenggara province (Indonesia).
Indeed, this instrument may be said to be unique, because it is one of the stringed musical instrument with uniqueness in shape, technique to play and also the material of it.
This instrument is quite famous these days in the midst of society, especially after Berto Pah display in IMB (Indonesian Seeking Talent), but the problem is, not all NTT's know Sasando, and only few people can play it. Maybe someday this instrument will be extinct and we had to learn to play it from another people in another countries.
History or the origin of  Sasando, we all just get from stories by generations that have been passed down by orally and writing, but certainly this instrument consists of two types: Sasando gong and violin Sasando.

The development of this instrument goes on along with the times, there is also a modification of the form and the quality of sound with the turn of the strings. fifik replaced by reinforced palm leaves, bamboo skins replaced by the strings of wire, single-stringed replaced by double strings, also developed acoustic to electronic, Sasando gong developed to violin Sasando.
Sasando became the pride for the Rotenese and NTT’s also because of form and beauty. The sound of Sasando has been modified, but on the other hand Sasando players are being reduced. Sure to be a question that comes up, why preservation Sasando be decreased or obstacles? even today violin Sasando players were staying few people. Even in general the number of sasando players is no more than 20 people.
Aware of it, NTT society in general needs to promote and preserve this instrument so the wealth of art and culture can be developed and maintained. Involvement of all elements of society is indispensable in preserving and developing this instrument.



Sasando or Sasandu?
One of the factors that affect the birth culture and structure of an area is the natural condition of the area. It also appears that happen on the culture of Rote people, the origin place of Sasando. The presence of palm trees in the Rote island so meaningful to the NTT’s because of the tree, appears the idea for ​​made a Sasando, therefore palm leaves itself is a cultural foundation stone of society.
Rote society use this plant as a source of life, for making wine, gin (a traditional drink), red sugar, sugar water, ants sugar, mats, haik, sandals, hats roofs and building materials, but more than that, This tree have more value because it inspired the birth of a musical instrument Sasando. Up to now the palm leaves are preserved as a resonator for Sasando.

Yusak Meok, one of the presenters at the Sasando Music seminar at the Hotel Kristal, Thursday (17/12/2009) say, Sasando should named sasandu (sound generated from vibration), born from the inspiration of the founder from  interaction with nature.
According Meok, there are various version about the history of this instrument, among others, this instrument is said to a young man named Sangguana in 1650’s stranded on the Ndana island, Sangguana have artistic talent, so the people took him to the palace, and the princess falling in love with him and asked Sangguana to create musical instruments. Sangguana dreamed one night he playing a musical instrument from his creation, then he given name sandu (vibrate) for His instrument.
"There is nevertheless another story, this instrument was found by two shepherds who named Lumbilang and Balialang, there is also another story, Sasandu was discovered by two friends Lunggi Lain and Balok Ama Sina," said Meok.
Because the instrument has been installed in the resonance leaves, then it called the sandu or the sanu, it has meaning vibration. This instrument then called as sasandu derived from repeated word-sandu sandu or vibrate repeatedly.
Now, it is more pronounced Sasando than Sasandu, but these words do not change the shape and sound of this instrument.
Meanwhile Peter Riki Tukan, other speakers said, sasando instrument is a cultural phenomenon in general and the arts (music) in particular is quite tempting artists instincts.

(Source: Pos Kupang)

Tuesday, 18 June 2013

Sasando Shop

Sasando Shop menjual berbagai macam tipe Sasando baik itu untuk pajangan maupun yang dimainkan oleh profesional

Sasando Shop sale many type of Sasando for gift, collection, and can be used to play for beginner and profesional Sasando Player

Adapun jenis sasando yang kami jual adalah:
Sasando Elektrik 45 Senar Double Strings (Tanpa Stand) Rp 4.250.000,-
Sasando Elektrik 45 Senar Double Strings (Dengan Stand) Rp 5.000.000,-
Sasando Elektrik 32 Senar Rp 4.000.000
Sasandu (Sasando Gong) IDR 800.000,- 
Sasando 24 Strings (Non Elektrik) Rp 900.000,- 
Sasando 45 Strings (Non Elektrik) Rp 2.800.000,-
Sasando Pajangan Rp 300.000
Sasando Miniatur (Tinggi 12-15 cm) Rp 50.000

We Sale:
Electric Sasando 45 Strings (without stand) IDR 4.250.000,-
Electric Sasando 45 Strings (with stand) IDR 5.000.000,-
Electric Sasando 32 Strings IDR 4.000.000,-
Sasandu (Sasando Gong) IDR 800.000,- 
Sasando 24 Strings (Non Electric) IDR 900.000,- 
Sasando 45 Strings (Non Electric) IDR 2.800.000,-
Sasando for gift & collection IDR 300.000,-
Miniature Sasando (Height 12-15 cm) IDR 50.000,-

Detail Sasando Handmade dan dipakai oleh pemain Sasando Profesional.
Handmade Drawing and used by Profesional Sasando Player
 
Dapatkan Gratis : Stem Sasando dan Kabel 3 mtr untuk setiap pembelian Sasando Elektrik.
Free: Sasando stem and Cabel 3 meter for each order of electric Sasando.

Kami juga menerima tawaran untuk performance Sasando solo maupun grup di nasional maupun internasional.
Contact us for Solo or Group Performance in National and International Ceremony.

Sasando Elektrik di atas merupakan Sasando Biola yang dipakai semua para pemain Sasando Profesional..
This Sasando type is called Violin Sasando and used by all profesional player.

Kami sudah melayani pembelian dari berbagai daerah di Indonesia juga luar negeri..
We already served buyers from Indonesia and other countries.

Contact:
Nat
Jl. Dodiklat No.6 (Depan Koperasi SPN)
Oebobo - Kupang 85111
Nusa Tenggara Timur - Indonesia
Mobile: 085738012724
Email: nat_arch@hotmail.com




Sejarah Alat Musik Sasando

Sasando sendiri sudah kita ketahui, adalah sejenis alat musik petik dengan ruang resonator dari haik (anyaman dari daun lontar) yang sudah terkenal di kalangan masyarakat NTT.
Memang alat musik ini boleh dikatakan unik, karena merupakan salah satu instrument musik petik dengan keunikan ada pada bentuk, cara memainkannya dan juga bahan pembuatannya.
Alat musik ini cukup terkenal belakangan ini di tengah-tengah masyarakat, apalagi setelah Berto Pah menampilkannya di IMB ( Indonesia Mencari Bakat),namun pertanyaannya, apakah semua masyarakat NTT mengenal sasando, ataukah semua masyarakat bisa memainkannya. Ataukah jangan sampai suatu saat alat musik ini punah dan masyarakat NTT harus ‘berguru’ lagi ke daerah lain untuk memainkan sasando yang sebenarnya?.
Sejarah atau asal-usul sasando ini, kita semua hanya peroleh dari cerita-cerita secara turun-temurun yang sudah diwariskan secara lisan maupun tulisan, namun yang pasti alat musik ini terdiri dari dua jenis, yaitu sasando gong dan sasando biola.

Perkembangan alat musik ini berjalan terus seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula modifikasi bentuk serta kualitas bunyi dengan pergantian dawai. fifik diganti dengan tulangan daun lontar, kulit bambu berganti senar kawat, senar tunggal diganti dawai rangkap, akustik berkembang pula ke elektronik, sasando gong berkembang ke sasando biola.
Menjadi kebanggan tentu bagi orang Rote dan juga NTT umumnya akan bentuk dan keindahan, bunyi dari sasando yang telah mengalami modifikasi, namun dipihak lain pemain sasando semakin hari semakin berkurang. Tentu menjadi sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa pelestarian sasando menjadi menurun atau mengalami hambatan? bahkan sekarang ini pemain sasando biola pun tinggal sedkit saja. Bahkan secara umum jumlah pemain sasando tidak lebih dari 20 orang.
Menyadari akan hal itu, masyarakat NTT umumnya perlu memasyarakatkan dan melestarikan alat musik ini sehingga kekayaan seni budaya dapat dikembangkan serta dipertahankan. keterlibatan semua elemen masyarakat sangat diperlukan dalam melestarikan dan mengembangkan alat musik ini.(yel)



Sasando atau Sasandu?
Salah satu faktor yang mempengaruhi lahirnya kebudayaan suatu daerah adalah struktur dan kondisi alam dari daerah itu. Hal ini juga tampak yang terjadi pada kebudayaan orang Rote tempat asal alat musik sasando. Keberadaan tanaman lontar di Pulau Rote cukup memberi arti bagi NTT karena dari pohon itu, ide membuat sasando muncul, karena itu pohon lontar sendiri sebagai peletak dasar kebudayaan masyarakat.
Masyarakat Rote sendiri tidak memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber kehidupan, yaitu sebagai penghasil tuak, sopi (minuman tradisional), gula lempeng,gula air, gula semut, tikar, haik, sandal, topi atap rumah maupun bahan bangunan, tetapi lebih dari itu, masyarakat sudah menganggap tanaman ini memiliki nilai lebih karena sudah menginspirasi lahirnya alat musik sasando. Sampai sekarang daun pohon lontar ini masih tetap dipertahankan sebagai resonator alat musik ini.

Yusak Meok, salah satu pemateri pada seminar Musik Sasando di Hotel Kristal, Kamis (17/12/2009) lalu, mengatakan, Sasando yang seharusnya bernama sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar), lahir dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam.
Menurut Meok, ada berbagai fersi mengenai sejarah tentang alat musik ini, diantaranya, alat musik ini konon ada seorang pemuda bernama Sangguana pada tahun 1650-an terdampar di Pulau Ndana, Sangguana memiliki bakat seni, sehingga penduduk membawanya ke istana, kemudian putri istana terpikat dan meminta Sangguana menciptakan alat musik. Sangguana pun bermimpi pada suatu malam sedang memainkan alat musik yang ciptakannya, kemudian diberi nama sandu (bergetar).
“Ada jua cerita lain, alat musik ini ditemukan oleh dua penggembala yang bernama Lumbilang dan Balialang, ada juga cerita lain, sasandu ini ditemukan oleh dua sahabat yakni Lunggi Lain dan Balok Ama Sina,” papar Meok.
Karena alat musik yang telah dipasang dalam haik itu beresonasi, maka disebut sandu atau sanu yang mempunyai arti bergetar atau getaran. Alat ini kemudian disebut sebagai sasandu yang berasal dari kata berulang sandu-sandu atau bergetar berulang-ulang.
Dengan perkembangan yang terjadi, maka sasandu ini lebih dilafalkan menjadi sasando, sehingga terbawa sampai saat ini, namun ucapan ini tidak merubah bentuk dan suara dari alat musik ini.
Sementara itu Petrus Riki Tukan, pemateri lainnya mengatakan, alat musik sasando merupakan sebuah fenomena budaya pada umumnya dan kesenian (musik) khususnya yang cukup menggoda naluri seniman.

(Sumber: Pos Kupang)